Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label psikologi

KRITIK ATAS RISET-RISET PSIKOLOGI KONTEMPORER

Bagaimana ilmuwan psikologi dapat mencerna persoalan psikologis masyarakat yang tinggal di sekitar daerah industri? Yakni para masyarakat marjinal. Bagaimana kondisi psikologis masyarakat yang tinggal di wilayah perkebunan sawit? Apa yang dirasakan masyarakat yang tinggal di daerah situ? Bagaimana dinamika psikologisnya? Jika ada masalah psikologis yang dirasakan, lalu bagaimana menyelesaikannya?  Akhir-akhir ini sejumlah riset psikologi tampak sangat kaku. Kurang studi etnografinya. Minim riset fenomenologinya. Riset-riset psikologi paling banyak menggunakan pendekatan kuantitatif. Positivistik. Kaku. Rigid. Kurang fleksibel. Tidak bebas. Dan sangat normatif. Ini realita riset-riset psikologi di Indonesia.  Belum lagi, misalnya seorang periset psikologi, ketika hendak menerapkan studi etnografi dalam penelitiannya, kadang dicemooh. Kadang tidak dipedulikan. Katanya, itu riset abal-abal. Hasilnya ndak bisa diuniversalkan. Akhirnya, para periset psikologi menjadi tidak percaya ...

Filosofi Sagu dan Kekuatan Karakter

Maluku menyimpan alam yang eksotis. Ada pantai pasir putih Liang. Pulau Molana yang indah. Sunset teluk Ambon yang megah. Dan puncak Binaya, cocok untuk para pencari ketenangan. Keindahan alam Maluku, alhamdulillah, belum terjamah kaki-kaki usil. Belum terjajah oleh para “penikmat alam”, yang tendensinya hanya merusak alam. Maluku, termasuk salah-satu provinsi seribu pulau di Indonesia. Setiap gugusan pulau diselimuti hutan lebat. Jangan heran, Dowes Dekker mengistilahkan, zamrud khatulistiwa. Mungkin karena itu juga, bung Pramoedya mendapat inspirasi di Pulau Buru. Warna hijau sangat menenteramkan mata. Cocok untuk para pencari gagasan peradaban demi masa depan yang gemilang. Sembilan puluh persen wilayah Maluku ialah laut. Laut punya sifat tersendiri. Ulasan kang Yudi Latif dalam bukunya Negara Paripurna, bahwa salah-satu sifat laut ialah menyerap dan membersihkan. Kata “menyerap” berarti terbuka menerima pandangan yang berbeda dan “membersihkan” ialah meniadakan hal...

Hoax Demi Keuntungan Finansial

Ada pepatah kuno mengatakan, "Meskipun kesalahan lari secepat kilat, tapi suatu saat kebenaran pasti mengalahkannya". Informasi-informasi yang salah pasti akan kalah dengan informasi yang benar. Oleh sebab itu, kita harus berpegang pada informasi yang benar saja. Saat ini, kita hidup dalam situasi tanpa batas. Beragam informasi bisa kita peroleh dari mana saja. Entah dari facebook, whatsapp, instagram, dll. Hampir setiap hari kita di bombardir berjuta informasi, baik tentang politik, sosial, ekonomi, bahkan gejala alam. Akibatnya, situasi ini membuat kita menjadi pribadi yang tahu "sedikit" hal dari banyak hal yang ada. Anehnya, dari "sedikit" hal yang diketahui membuat kita percaya dan menganggapnya sebagai kebenaran yang tidak bisa di ganggu-gugat (taken for granted). Padahal, pengetahuan yang "sedikit" ini belum tentu benar sebagaimana mestinya. Ambil contoh, informasi tentang pulau Maluku yang bakal ten...

Psikologi, Sepakbola dan Maluku

Sepak bola di mata orang Maluku adalah permainan paling spesial. Pemain-pemain "mentereng" asal Maluku terlampau banyak.  Saat ini yang paling terkenal ialah Ramdani Lestaluhu, salah-satu pesepak bola nasional asal Maluku.  Tak hanya di dalam negeri, pemain-pemain sepak bola berdarah Maluku juga ada yang bermain di Belanda.  Apakah Anda pernah dengar nama Navarone Foor? Dialah orangnya. Dengar kabar bahwa dia sangat diburu netizen tanah air karena akan membela timnas Indonesia. Dan masih banyak pemain-pemain berdarah Maluku lainnya.  Sepak bola tidak sekedar permainan saja. Sebetulnya punya makna filosofis yang sangat dalam.  Coba perhatikan, jika strategi Anda lemah dalam permainan sepak bola maka Anda bisa kalah! Karena itulah, Anda harus serius. Inilah filosofinya; serius di dalam permainan.  Filosofi permainan sepak bola itu persis seperti kita menjalani hidup ini.  Pertama, bahwa selama menjalani hidup ini kita...

Dalam Situasi Sulit, Anda Tak Perlu Menjadi Hebat

Dalam situasi sulit, anda tidak perlu menjadi pribadi hebat. Yang di perlukan saat ini ialah menjadi pribadi yang bermanfaat.  Kontribusi apa yang sudah Anda berikan? Apakah hanya kritik? Sudah tentu tidak akan menyelesaikan persoalan. Malah akan menambah masalah baru.  Di era Demokrasi, setiap individu bebas berpendapat. Kritik yang membangun sangat di perlukan. Namun, harus beretika.  Yang perlu di tegaskan di sini ialah jangan menjadi trouble maker, tapi problem solver. Sebagai problem solver, setiap kritik harus punya solusi.  Solusinya ialah berupa kontribusi nyata. Kontribusi ini landasannya ialah ilmu pengetahuan. Jika Anda punya pengetahuan lebih, maka coba berikan kepada masyarakat di masa pandemi ini.  Saat ini, kita butuh interkoneksi ilmu pengetahuan. Semua cabang ilmu harus bersatu. Tidak boleh terpisah-pisah. Membaca persoalan virus ini harus secara berbarengan.  Dalam filsafat ilmu, terkait interkoneksi ilmu sudah ...

Kecanduan Cinta dalam Partisipasi Politik Massa

Secara pribadi, saya sangat senang melihat orang-orang yang sedang jatuh cinta. Bukankah sangat luar biasa jika cinta romantis ini berlangsung selamanya?  Tetapi, bagaimana jika cinta romantis menjadi berlebihan pada sebagian orang? Bisakah cinta ini menjadi candu?  Pembahasan ini tidak terkait dengan fenonema jatuh cinta antar-sesama manusia yang berbeda jenis kelamin, melainkan dalam diskursus partisipasi politik massa yang dipengaruhi oleh gejala love addiction (kecanduan cinta).  Bagaimana partisipasi politik massa yang terdorong oleh kecanduan cinta? Pertanyaan inilah yang akan kami bahas dalam kesempatan ini. Kecanduan Cinta European Journal of Psychiatry edisi Januari-Maret 2019, peneliti Sanches dan John membahas gejala kecanduan cinta ini. Para peneliti itu mengartikan bahwa kecanduan cinta ialah sebagai pola perilaku maladaptif yang secara berlebihan terhadap satu individu sehingga mengakibatkan kurangnya kontrol diri serta konsekuens...