Langsung ke konten utama

MENGKAJI PEMIKIRAN GLENN ALBRECHT (BAGIAN II)


Sebagaimana ulasan saya pada kesempatan yang lalu tentang biografi Glenn Albrecht, berikut ini saya akan menjelaskan substansi pemikirannya. Bagi saya, Albrecht adalah seorang pemikir lingkungan yang sangat unik. Keunikannya terletak pada banyak istilah yang ia rumuskan sendiri, yakni mulai dari solastalgia, sumbiografi, hingga simbiosen. Sejumlah istilah ini akan saya jelaskan di lain kesempatan. 

 

Bagi Albrecht, krisis iklim yang terjadi sekarang ini secara langsung berdampak juga pada krisis eksistensial yang dialami manusia sekarang, seperti manusia merasa teralienasi dari tempat tinggalnya sendiri akibat perubahan lanskap yang disebabkan oleh proses industrialisasi. Albrecht sangat menaruh perhatian pada kajian eksistensial manusia ini, ia bahkan mengatakan dirinya sebagai pembaca setia filsafat eksistensial manusia. Salah satu filsuf eksistensial yang cukup berpengaruh ke dalam pemikiran Albrecht adalah Heidegger.

 

Dalam membangun kerangka berpikirnya tentang krisis iklim yang berdampak pada krisis eksistensial ini, Albrecht merujuk pada dua pemikir besar yang menurutnya sangat mempengaruhinya. Dua pemikir besar tersebut adalah Aldo Leopold dan Elyne Mitchell. Salah satu karya Leopold yang sangat menginsipirasi Albrecht adalah buku “A Sand County Almanac” yang diterbitkan pada tahun 1949. Dalam buku ini, Albrecht mengambil makna “lanskap yang sakit” dan gagalnya pemilik tanah melihat rasa sakit yang dialami lanskap tersebut.

 

Selain Leopold, Albrecht juga sangat terinsipirasi oleh salah satu pemikir Australia yang tidak terlalu terkenal. Dia adalah Elyne Mitchell. Menurut Albrecht, sebelum Leopold menjelaskan tentang “lanskap yang sakit” pada tahun 1949, sebetulnya Mitchell sudah menjelaskannya dalam bukunya berjudul “Soil and Civilization” yang terbit pada tahun 1946. 

 

Selain menguraikan lanskap yang sakit, di dalam buku Mitchell tersebut juga menjelaskan tentang pentingnya relasi antara kesehatan mental manusia dengan kesehatan lahan (lanskap). Jika relasi antara kesehatan lahan dengan kesehatan mental manusia terputus, maka manusia akan mengalami instabilitas psikis. Keterputusan relasi manusia dengan tempat tinggal ini sesungguhnya menunjukkan keterputusan ontologis sebagaimana Saras Dewi menjelaskan dalam bukunya berjudul “Ekofenomenologi”. Tentang buku Saras Dewi akan saya membahasnya di lain kesempatan.

 

Pengaruh Leopold dan Mitchell ke dalam pemikiran Albrecht inilah yang kemudian melahirkan gagasannya tentang solastalgia. Solastalgia merupakan gejala psikologis seperti rasa kesusahan akibat hilangnya pelipur lara saat berada di dalam lanskap yang sakit. Misalnya, orang-orang yang tinggal di sekitar pusat industri, yang mana proses industrialisasi telah merubah tempat tinggal (lanskap) mereka, ini secara tidak langsung telah memutus relasi seseorang dengan lanskap tersebut. Akibat dari keterputusan relasi tersebut sehingga melahirkan gejala rasa kesusahan yang dialami seseorang tersebut. Perasaan solastalgia merupakan masalah eksistensial manusia di era sekarang ini.  


Fakta tentang masalah eksistensial yang dihadapi manusia sekarang ini, menurut Albrecht menunjukkan bahwa era sekarang ini adalah era perang emosional yang ditandai oleh perang antara emosi-bumi-negatif yang disebabkan proses industrialisasi melawan emosi-bumi-positif dari alam bersama para peduli lingkungan. Alam semesta menurut Albrecht punya emosinya sendiri, dan emosi alam semesta ini merupakan sesuatu yang positif. Agar kita (manusia) bisa merasakan emosi-bumi-positif, maka terlebih dahulu manusia harus punya cinta dan empati terhadap bumi sebagai tempat tinggalnya.

 

Tanpa cinta dan empati terhadap alam semesta, maka yang muncul adalah keserakahan yang berdampak pada lahirnya emosi-bumi-negatif seperti kerusakan ekosistem, banjir, dan krisis eksistensial manusia. Keserakahan terhadap alam semesta melalui proses industrialisasi, gentrifikasi, dan deforestasi ini diistilahkan Albrecht sebagai proses terraphthoric, sementara cinta dan empati terhadap alam semesta sebagai proses terranascient. 

 

Albrecht melihat ironisnya sekarang ini adalah lanskap kebijakan politik kita cenderung menggunakan pandangan terraphthoric dibanding terranascient. Olehnya itu, muncul kebijakan industrialisasi, gentrifikasi, dan deforestasi yang berujung pada kehancuran bumi. Di banyak negara Barat, yang di dominasi pasar bebas, bahkan ada juga bentuk permusuhan terhadap lingkungan yang diatur oleh elit politiknya. Salah satu contohnya adalah munculnya pengeboran minyak di Kutub Utara, penebangan pohon di hutan Amazon untuk peternakan, serta agenda membabat hutan tropis untuk perkebunan kelapa sawit.

 

Situasi global seperti itu yang kemudian mengakibatkan kita sekarang telah memasuki periode ketidakpasitan ekstrim seperti kelaparan besar-besaran, terorisme internasional, dan bencana iklim, semua ini menambah kecemasan bagi kita saat ini dan ketakutan kita akan masa depan. Olehnya itu, era sekarang ini butuh keterlibatan emosi terranscient sehingga dapat menstimulasi munculnya emosi-bumi-positif, ini bisa terjadi apabila kita harus keluar dari era antroposen memasuki era baru yang diistilahkan Albrecht yakni “simbiosen”. 

 

Istilah tersebut merupakan suatu bentuk harapan optimistis melihat kesehatan bumi dan semua yang ada di dalamnya secara positif di masa mendatang. Berbeda dengan para pemikir lain yang terlalu pesimistis melihat situasi sekarang ini, Albrecht lebih melihat ke arah opstimistis dengan memberi solusi agar manusia sekarang ini harus cepat keluar dari era antroposen menuju era simbiosen. Tentang apa itu simbiosen menurut Albrecht akan saya ulas di lain kesempatan. Sungguh menarik sekali pemikir lingkungan Australia ini, Glenn Albrecht.

 

Ambon, 14 Juli 2023

MKR Pelupessy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata "Tabea" sebagai Wujud Perilaku Sopan-santun Orang Maluku - Malut

Dialah Dieter Bartels, antropolog asal Jerman yang sudah puluhan tahun melakukan studi di Maluku, mengatakan bahwa, meskipun orang Maluku itu punya watak keras dan terkadang diperankan sebagai "preman" di kota-kota besar, namun banyak juga orang Maluku yang punya perangai cerdas, cerdik, dan berpengetahuan luas. Artinya, stigma keras kepala alih-alih kurang beradab yang melekat pada orang Maluku ialah suatu kekeliruan yang cukup besar.  Orang Maluku yang beradab ini dapat kita lihat dalam praktik kebudayaan, ada terselip nilai-nilai etis yang sangat tinggi. Salah-satu budaya yang dapat kita perlihatkan di sini ialah kata "tabea", biasa dipakai dalam komunikasi sehari-hari atau dalam upacara adat tertentu. Hampir setiap daerah yang ada di Indonesia bagian timur, kata "tabea" ini tak asing lagi di dengar khayalak umum.  Di Bone, Sulawesi Selatan, misalnya, ada kata "tabea" (dengan penghilangan huruf a menjadi tabe). Beta pernah dengar ...

Tujuan PRESTASI bukan IPK melainkan ILMU

Kisah nyata. Saat ini aku ingin bercerita tentang PRESTASI. Cerita ini bermula ketika aku masih duduk di bangku kuliah kala itu.  Semester awal, prestasi ku terbilang memuaskan. Aku banyak belajar, baca buku, dan jarang main-main. Aku banyak menghabiskan waktu senggang di perpustakaan.  Seiring berjalannya waktu, prestasi ku semakin anjlok. Aku banyak menyibukkan diri di organisasi.  Aku tak peduli dengan kuliah. Bagiku organisasi ialah tempat yang sama dengan kuliah. Di organisasi, aku bisa mengasah skill, yang hal ini tidak pernah aku dapat di bangku kuliah.  Tak hanya itu. Bahkan di organisasi juga aku banyak berdiskusi dengan kawan-kawan dari berbagai jurusan.  Bersama mereka, aku habiskan waktu untuk mengkaji filsafat. Mengkaji pemikiran para tokoh-tokoh kaliber dunia. Dan masih banyak topik kajian lainnya. Karena rutinitas yang terlalu padat di luar kampus, akhirnya aku mendapat IPK 2,75. Prestasi yang luar biasa sekaligus KONY...

Hibernasi Pikiran

Angin timur, masuk musim hujan sepertinya akan berlangsung cukup lama. Sekarang sudah bulan Juli. Mungkin, angin timur ini mulai reda di penghujung bulan Agustus atau September.  Sekarang, waktu yang tepat untuk hibernasi. Tidur panjang selama tiga bulan penuh, tanpa aktivitas dan tanpa bicara soal politik. Kayaknya, baik untuk kesehatan psikologis.  Semakin beta melepaskan diri dari situasi, terasa beta temukan topik yang baru, tenang dan damai. Situasi membuat kita amburadul. Situasi penuh paradoks.  Kini, di luar situasi, beta merasa telah menjadi pribadi tunggal. Apakah kejadian ini dinamakan proses penemuan jati diri? Belum. Beta belum menemukan. Masih banyak keresahan.  Dalam kondisi diam, tenang, dan terasa damai ini, membawa beta kembali pada kisah-kisah masa silam. Untuk kali ini, beta harus lakukan sedikit refleksi dari perjalanan hidup ini (terkesan egois menceritakan urusan pribadi).  Qashai Pelupessy Maluku - Ambon Selas...

Batu Pamali di Negeri Tua Elhau

Batu pamali, salah-satu tempat sakral orang Maluku. Hampir semua negeri atau kampung di Maluku ada batu pamali-nya. Batu ini diletakkan tepat di dalam rumah baileo. Pemaknaan atas rumah adat baileo sendiri ialah sebagai "balai" tempat musyawarah para tetuah.  Di batu pamali ini, para tetuah dari berbagai marga bersatu untuk menyepakati norma hukum. Norma inilah yang mengikat masyarakat kampung di kemudian hari. Norma-nya lebih terkait adab pergaulan sosial, ritual adat istiadat, sampai pembagian tanah garapan.  Oleh sebab itu di sebut "pamali". Kata "pamali" merupakan serapan dari bahasa Pasundan. Dalam terminologi Pasundan, kata "pamali" diartikan sebagai norma tradisi lokal, menyangkut adab kesopanan, adab komunikasi, adab persatuan, dsb.  Selain sebagai tempat kesepakatan, batu pamali juga merupakan perwujudan dari konsep ke-Tuhan-an ala orang Maluku. Hal ini bisa kita lihat dari tekstur batu dan letak batu ini berada di dalam...

Aku Masih Ada

Aku mencintai Kau,  lebih daripada kata cinta,  lebih daripada puncak Nirvana,  Lebih daripada kisah Rama dan Sinta, Lebih daripada kisah Romeo dan Juliet..,  kampret mereka,  lebih daripada kisah, siapa saja. Aku ingin memelukmu dalam suasana,  sukma, cahaya, dan bahagia,  terang, gelap, duka, dan asa.  Aku mencintai Kau..,  seperti kisah Rasulullah, bersama Khadijah atau Aisyah, seperti kisah Ali bersama Fatimah,  indah. Terlalu tinggi asa,  masuk dalam duka,  menjadi sengsara.  Jangan..! Tahan.  Kini, aku duduk sendiri,  dalam relung-relung hati,  katakan saja, "Aku Masih Ada". Ya.., itu Dia, Aku masih Ada.  Aku dan Aku menjadi Kami.  Aku dan Aku menjadi Mereka.  Aku dan Aku menjadi Kita.  Aku dan Aku menjadi Aku.  Lorong Anggrek, Jumat 24 Juli 2020 Qashai Pelupessy

Dunia yang Longgar

Teritorial hanya berlaku jika ada yang mengganggu kedaulatan. Selagi tidak ada gangguan, maka teritorial bersifat "longgar". Olehnya itu, kegiatan ekspor-impor lazim terjadi. Maybe.  Sistem ekspor-impor, melibatkan orang sebagai pekerja. Dalam situasi ini, orang Barat bisa "leluasa" berkunjung ke negeri Timur. Semua ini untuk keberlangsungan sistem ekonomi global.  Parawisata, menarik untuk di perhatikan. Alam yang eksotis di populerkan sampai ke luar negeri, demi menarik antusias turis asing berkunjung ke dalam negeri.  Tentu, turis asing akan membayar voucher perjalanan dengan harga bombastis. Semua akan di kelola menjadi pendapatan negara. Keuntungan transaksional.  Pendidikan, demi tujuan World University, maka mau-tak-mau mendorong para pimpinan universitas harus menarik mahasiswa asing kuliah ke dalam negeri. Materi pengantarnya ialah "bahasa Indonesia", di ajarkan tanpa mengecualikan pemahaman atas budaya setempat.  Industri...

Polling itu Tidak Akurat

Belakangan ini beredar situs-situs polling Bakal Calon Bupati, Wakil Bupati, Walikota, Wakil Walikota, dst. Tampak, hasil hitungan polling itu terkesan menggiurkan, namun menyesatkan. Kalau kita sayang para Bakal Calon itu, maka sebaiknya polling ini jangan di lanjutkan.  Sebenarnya, yang wajib menerangkan tentang "tidak akuratnya" hitungan polling ini ialah para ahli statistik. Meskipun demikian, dalam ilmu psikologi, sering juga bersentuhan dengan statistik  sebagai alat analisis data penelitian.  Hasil hitungan polling sangat tidak akurat. Paling tidak, yang terbaca dari hasil hitungan polling itu ialah upaya meng-goal-kan "Bakal Calon" menjadi "Calon Tetap". Upaya itu memang baik, tapi bisa mendatangkan petaka di kemudian hari. Berikut akan dijelaskan tentang "tidak akuratnya" hasil hitungan polling, dan dampaknya bagi para "Bakal Calon" yang diharapkan menjadi "Calon Tetap". Polling ini tidak akurat karen...