Langsung ke konten utama

Manusia senang Menyalahkan Keadaan


Kasihan melihat manusia jatuh pada sikap pesimistik. Senang menyalahkan keadaan. Penyebabnya ialah karena apa yang di inginkan tidak selaras dengan keadaan.

Manusia terlalu banyak menuntut ini dan itu, tapi keadaan selalu berkata lain. Akhirnya, muncul dilema dalam diri sendiri. Salahnya Anda kenapa terlalu banyak menuntut? 

"Keinginan adalah sumber penderitaan", adalah pernyataan yang sangat pas sekali. Sumber dilema ialah pada diri Anda itu sendiri. Tapi, tak pernah disadari. 

Keinginan adalah efek dari hawa nafsu. Hawa nafsu cenderung merusak diri sendiri. Plato punya metafor bagi kita untuk mengenal Hawa nafsu. 

Dalam diri manusia ada dua jenis kuda, yakni kuda hitam dan kuda putih. Kuda hitam selalu menuntut manusia bertindak egois, iri, dan senang menyalahkan keadaan. 

Sedangkan, kuda putih menuntut manusia bertindak sombong, angkuh, dan suka dengan popularitas. Kedua jenis kuda ini harus dikendalikan agar jiwa selalu dalam posisi tenang dan damai. 

Bagaimana cara mengendalikannya. Tidak lain dan tidak bukan ialah tergantung kejernihan rasionalitas Anda. Jika rasio Anda cenderung mengikuti kuda hitam, maka penyesalan yang di dapatkan. 

Sebaliknya, jika rasio Anda mengikuti kuda putih, maka kesengsaraan yang diperoleh. Karena itulah, rasio Anda harus dalam posisi "seimbang", penuh pertimbangan, dan jernih. 

Qashai Pelupessy
Ambon - Maluku
Jum'at, 05 Juni 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"MITOS PRIBUMI MALAS"

( Ilustrasi pribumi. Lukisan ) Istilah "mitos pribumi malas" ini saya temui dari buku hasil penelitian yang ditulis Tania Murray Li dan Pujo Semedi (2022). Buku itu berjudul "Hidup Bersama Raksasa". Maksudnya, masyarakat hidup bersama perusahaan perkebunan. Kembali ke soal istilah, "Apakah pribumi kita benar-benar berwatak pemalas? Ataukah ini hanya mitos saja agar kita merasa inferior dalam mengelola sumber daya yang ada secara mandiri dan harmonis?" Jika kita periksa lembar-lembar sejarah, kita akan temui banyak fakta tentang mustahilnya pribumi kita punya watak pemalas. Kalau pribumi kita pemalas, maka tidak mungkin waktu itu pribumi kita bisa membuat perahu lalu mengarungi samudra sampai ke Madagaskar. Mustahil juga pribumi kita waktu itu melakukan perdagangan internasional sampai di anak benua India, lalu dari situ bahan-bahan dagang kita (putik cengkih, lada, dan pala) tersebar ke seluruh Eropa.  Usaha pribumi kita melakukan perdagangan internasional...