Langsung ke konten utama

"Sa Inoro'o Sa" sebagai Perilaku Politik Orang Siri-Sori Islam (4)


Sebagaimana yang sudah beta kemukakan di artikel kemarin, bahwa frasa "Sa Inoro'o Sa" ini punya makna sangat dalam. Dampak psikologis dari frasa tsb juga sangat beragam. Salah-satunya ialah empati, simpati, memaafkan, tolong-menolong, dan kohesi sosial. 

Di artikel ke empat ini, beta ingin jelaskan terkait apa itu perilaku politik yang bersumber dari frasa tsb. Perilaku politik beta artikan sebagai upaya atau proses mempengaruhi dari seseorang ke seseorang atau masyarakat agar tercipta situasi yang harmonis. 

Manusia merupakan makhluk politik. Zoon politicon adalah istilah yang di sematkan pada manusia sebagai "binatang politik". Dalam bahasa Inggris di sebut politic animal (binatang politik).

Sejak bayi lahir dan langsung menangis, maka ia sudah berpolitik. Konteks politiknya ialah ketika si bayi mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk mengenali tangisannya. 

Ketika si bayi menangis, maka ada tiga tanda yang harus kita kenali dan penuhi. Pertama, mungkin ia menangis karena kencing dan kita harus ganti popoknya. Kedua, mungkin ia menangis karena sedang buang air besar sehingga kita harus membersihkan anusnya. Dan ketiga, mungkin ia menangis karena lapar sehingga si ibu harus memberinya susu. 

Ketiga tanda itu harus kita penuhi. Kalau tidak maka ia akan terus menangis. Tangisan bayi membuat orang-orang di sekitarnya menjadi sayang dan berempati. Sehingga mau tak mau harus memenuhi keinginan si bayi. Inilah proses si bayi mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. 

Jika ketiga tanda dari tangisan si bayi itu kita penuhi, maka situasi akan kembali normal. Si ibu akan lebih tenang, dan si bayi pun demikian. Hasil akhir dari terpenuhinya keinginan si bayi ialah terciptanya nuansa harmonis. 

Meskipun setiap manusia merupakan makhluk politik, namun nilai-nilai yang mendasari perilaku politik antar setiap individu pasti berbeda-beda. Misalnya, nilai-nilai individualistik di Barat pasti sangat berpengaruh terhadap perilaku politiknya. 

Berbeda dengan di Indonesia, yang rata-rata perilaku politik berpijak pada nilai-nilai Pancasila. Perilaku politik di setiap daerah pun "mungkin" juga berbeda-beda. Mungkin di Jawa berbeda dengan di Maluku, terkait perilaku politiknya. 

Di Siri-Sori Islam, perilaku politik berpijak pada nilai-nilai dari frasa "Sa Inoro'o Sa". Sebagaimana yang sudah beta paparkan di artikel kemarin, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi frasa tersebut ialah mistis, religius, dan hubungan interpersonal yang kuat. 

Dalam kesempatan ini, beta akan mengulas terkait faktor mistis mempengaruhi frasa "Sa Inoro'o Sa" sebagai sumber nilai politik orang Siri-Sori Islam. Sedangkan, ulasan mengenai dua faktor lainnya yakni religius dan hubungan interpersonal akan beta paparkan di artikel berikutnya (artikel kelima dan keenam). 

Terkait ke-mistis-an orang Siri-Sori Islam harus kita kaji melalui pendalaman historis masyarakat setempat. Di artikel yang beta tulis berjudul "Perjalanan Masyarakat Siri-Sori Islam dari Nomaden ke Chiefdom", telah beta kemukakan bahwa masyarakat Siri-Sori Islam awalnya ialah sebagai masyarakat nomaden. 

Ada yang mengatakan bahwa orang Siri-Sori Islam berasal dari Papua. Ada juga yang mengatakan dari Hadramaut. Dan ada yang katakan dari pulau Jawa. Menurut beta, semua pendapat itu benar. 

Konon, sebelum manusia-manusia "awal" datang ke Siri-Sori Islam, mereka sempat mendiami beberapa daerah. Misalnya, yang dari Papua sebelum ke Siri-Sori Islam, terlebih dahulu mereka sempat singgah di pulau Seram. 

Selama di pulau Seram, pekerjaan mereka ialah berburu dan meramu untuk bertahan hidup (istilahnya, survival of the fittest). Ketika objek buruan mulai berkurang, maka mereka pun pindah ke daerah lainnya (Siri-Sori Islam). Inilah yang di sebut sebagai masyarakat "awal" yakni nomaden. 

Terkait asal-usul orang Siri-Sori Islam yang berasal dari Papua, Jawa, dan Hadramaut, bisa kita lihat dari beberapa klan marga yang saat ini mendiami desa Siri-Sori Islam. Beberapa klan marga seperti Sallatalohy, Saimima, Sopamena, Patty, Pelupessy, Sanaky, Pattisahusiwa, dan masih banyak lagi, adalah sederet marga-marga yang berasal dari berbagai daerah. 

Keberadaan beberapa klan marga itu membuktikan bahwa orang Siri-Sori Islam awalnya bukan masyarakat tunggal yang berasal dari satu daerah tertentu, melainkan berasal dari banyak daerah. Setelah mereka melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lainnya, maka mereka menemukan Siri-Sori Islam. 

Sejarah lain menuturkan bahwa ada seorang Kapitan di desa Rumbati yang berasal dari suku Ala bernama Pattialam. Ia menikah dengan Ratu Pormalei, dan dari perkawinan itu dikaruniai tiga orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan yaitu Timamole, Simanole, Silalohi (Lohilomanuputty), Nyai Intan dan Nyai Mas.

Setelah dewasa ketiga orang anak laki-laki sepakat untuk pergi meninggalkan Hatumeten. Niat ini disampaikan kepada kedua orang tua mereka. Sang ibu kemudian mengambil sebuah mangkok untuk membuat sumpah janji dengan meminum tetesan darah dari jari-jari tangan ketiga saudara tersebut.

Isi sumpah itu sebagai bukti bahwa ketiga saudara adalah satu gandong (kandung). Dimanapun mereka berada mereka harus saling memperhatikan antara satu dengan yang lain. Sumpah janji ini bersifat mengikat sampai anak cucu turun temurun. Inilah sumpah yang bernilai mistik sangat tinggi. 

Perjalanan dari kelima bersaudara itu yang nantinya melahirkan beberapa kampung di Maluku. Saudara Timanole berhenti di Tamilou. Saudara Silaloi berhenti di bukit Elhau (kampung lama desa Siri-Sori Islam). Dan Simanole melanjutkan perjalanan dan menetap di Hutumuri. 

Kedua saudari perempuan lainnya yakni Nyai Intan berhenti di daerah Simanole dan menikah dengan raja Bakarbessy dari negeri Waai. Sedangkan, Nyai Mas berhenti di Silaloi dan menikah dengan raja Haria. 

Kampung-kampung ini yang kemudian punya ikatan "pela gandong" antara satu dengan yang lainnya. Pela berarti hubungan kerabat atas dasar sumpah darah. Hubungan pela biasanya dengan saudari perempuan, seperti Silaloi (dari Siri-Sori Islam) dengan Nyai Mas (dari Haria). 

Sedangkan, gandong berarti hubungan darah turun-temurun. Ikatan gandong ini misalnya orang Silaloi (dari Siri-Sori Islam) punya hubungan gandong dengan Simanole (dari Hutumuri). Ikatan gandong ini juga di dasarkan atas sumpah darah di masa lampau. 

Seiring perjalanan sejarah, para leluhur yang mendiami kelima daerah tersebut di atas melahirkan generasi ke generasi. Dan ketika masuknya agama-agama "baru" di Maluku, kelima kelompok masyarakat tersebut lalu memeluk agama Islam dan Kristen secara berbeda. 

Misalnya, masyarakat Haria dan Hutumuri memeluk agama Kristen., dan masyarakat Siri-Sori Islam memeluk agama Islam. Meskipun ada sekat-sekat religius yang khas, tapi dalam hal mistik tetap terjalin harmonis akibat hubungan pela-gandong tersebut. 

Faktor itulah yang sangat berpengaruh terhadap perilaku politik orang Siri-Sori Islam, yakni "Sa Inoro'o Sa". Sebagaimana yang telah beta paparkan di artikel lalu (artikel ketiga) bahwa perilaku "Sa Inoro'o Sa" ini tidak hanya berefek "ke dalam atau internal" orang Siri-Sori Islam saja, tapi juga "ke luar" karena ada ikatan pela-gandong tersebut. 

Sebagaimana juga beta paparkan di artikel kemarin, bahwa dampak perilaku politik dari frasa "Sa Inoro'o Sa" ialah saling tolong-menolong, empati, simpati, saling memaafkan, dan kohesi sosial. Artinya, terhadap orang Hutumuri misalnya, orang Siri-Sori Islam akan tetap menjaga kohesi sosial yang kuat. Tujuan politik yang ingin di capai sangat jelas, yakni mencapai keharmonisan bersama. 

Selain perilaku politik orang Siri-Sori Islam "ke luar" ialah menjaga kohesi sosial, "ke dalam" internal orang Siri-Sori Islam juga sangat menjaga nilai-nilai "Sa Inoro'o Sa". Hal ini bisa di telusuri dari lahirnya hukum etis "ipika mese-mese".

Hukum etis itu lahir akibat membludaknya beberapa klan marga yang datang ke Siri-Sori Islam. Setiap klan tentu memiliki kecenderungan kepentingan tersendiri. Setiap kepentingan sulit di kendalikan. Karena atas dasar kohesi sosial alih-alih frasa "Sa Inoro'o Sa" ini maka para leluhur membuat musyawarah di dalam rumah adat Baileo, dan di sepakatilah hukum etis "ipika mese-mese". 

Ipika mese-mese berarti satu sama lain saling terikat. Perumpamaan dari ipika mese-mese ini seperti nasi pulut. Yang mana, setiap butir nasi pulut saling lengket dan menyatu. Inilah wujud kohesi sosial, dan sebagai salah-satu perilaku politik yang khas di miliki orang Siri-Sori Islam. 

Berdasarkan ulasan tersebut, maka perilaku politik yang bersumber dari frasa Sa Inoro'o Sa ini berarti proses orang Siri-Sori Islam "mempengaruhi" situasi dalam konteks berempati, tolong-menolong, dan menjaga kohesi sosial, agar tercipta nuansa yang lebih harmonis di kemudian hari. Sekian ulasan beta mengenai faktor mistik mempengaruhi frasa "Sa Inoro'o Sa" sebagai sumber nilai politik yang di miliki orang Siri-Sori Islam.

Berikutnya, beta akan bahas mengenai perilaku politik orang Siri-Sori Islam yang bersumber dari frasa "Sa Inoro'o Sa" di lihat dari faktor religius (artikel kelima) dan hubungan interpersonal (artikel ke enam). Semoga ulasan singkat ini bisa menambah sedikit wawasan kita tentang perilaku politik yang khas di miliki masyarakat Siri-Sori Islam. 

Qashai Pelupessy
Ambon - Maluku
Sabtu, 30 Mei 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata "Tabea" sebagai Bentuk Motivasi Orang Maluku - Malut

Di artikel sebelumnya, beta telah ulas mengenai kata "tabea" sebagai wujud perilaku sopan-santun. Sekarang ini, beta akan bahas perihal kata tabea sebagai "daya tonjok psikologis" atau bisa kita maknai sebagai motivasi diri. Kata "tabea" biasa dipraktikkan ketika seorang pemuda berjalan di depan orang tua, maka ia harus nunduk sambil membungkukkan badan, terus ia katakan "tabea - permisi".  Adakalanya juga kata "tabea" ini muncul dalam praktik tarian-tarian adat di Maluku, seperti tarian soya-soya (di Maluku Utara), dan sesekali kata itu juga diteriakkan para penari dalam tarian cakelele. Selain itu, kata tabea juga muncul dalam tradisi "arumbai manggurebe". Para kapitan atau malesi dalam beberapa kesempatan upacara adat, setelah mereka menutup sambutan akan dibarengi dengan teriakan, "tabea!" (dengan suara lantang), sontak masyarakat yang mendengar juga meneriakkan kata yang sama, "tabea!".  ...

Kota Sejuta Kenangan

Pengalaman berharga. Sampai detik ini, aku sering berpikir, kok bisa aku kuliah di Jogja? Kota yang identik dengan nuansa pendidikan sekaligus kota budaya.  Aku pernah dengar cerita dari orang Jogja terkait daerahnya layak di anggap kota pendidikan. Ternyata, dulu Sultan Hamengkubuwono IX sempat bersumpah, bahwa ia menginginkan Yogya sebagai kota pendidikan. Sumpah itu akhirnya menjadi kenyataan. Sumpah seorang pemimpin pasti di dengar Tuhan, mungkin ya? Wallahualam.  Yogyakarta segudang kenangan. Awalnya, aku tak pernah terpikir kuliah di Yogya. Setelah lulus SMA, aku berniat kuliah di Makassar. Kuliah di Makassar adalah pengalaman tersirat yang aku rasakan. Hal ini bermula ketika aku berkenalan dengan salah-seorang Ustadz asal Makassar.  Beliau "iming-iming" agar aku kuliah di Makassar, dengan dalih bahwa setelah dari Makassar ("Universitas Agama) aku bisa lanjut kuliah di Mesir. Tepatnya di Universitas Al-Azhar.  Aku sangat mengimpikan...

Tan Malaka: Tuhan itu Waktu? (1)

Gus Dur pernah menceritakan pengalamannya ketika bertemu Tan Malaka. Suatu hari, ada seorang pemuda asal Banten, namanya Husein, silaturahmi ke rumah Gus Dur. Keperluan pemuda Banten itu ingin menemui ayah Gus Dur, Wahid Hasyim (Pahlawan Nasional - Menteri Agama Pertama Republik Indonesia).  Gus Dur yang masih kecil, tidak tahu persis latar belakang pemuda asal Banten tersebut. Yang Gus Dur tahu, bapaknya, Wahid Hasyim adalah seorang pria yang mudah bergaul dengan siapa saja. Entah dari yang se-ideologi atau beda ideologi, bahkan se-agama atau beda agama.  Setelah beberapa tahun berlalu, yakni di saat hari-hari terakhir Gus Dur bersama ibunda, sang ibu bertanya kepada anaknya, "kamu masih ingat, pemuda Banten yang waktu itu sering berkunjung ke rumah kita?". Jawab Gus Dur, "iya mah, masih ingat". Lanjut ibunda, "dia itu Tan Malaka".  Sekilas, Gus Dur lalu teringat dengan pemuda Banten tersebut, oh ternyata dia itu Tan Malaka toh. Dari sini...

Nama-nama Ladang yang Digarap Masyarakat Siri-Sori Islam

Berikut ini, nama-nama ladang yang digarap masyarakat Siri-Sori Islam. Pertanyaannya, sejak kapan para tetua memberi nama-nama ini?  Terus, apa arti dibalik nama-nama ini? Apakah nama-nama ini menggambarkan situasi ladang, seperti tekstur tanah, dll?  Hatumete Amahani  Sanaalo Tawala Karamat Umepeddo Waituwaalo Saupena Amtuo Lounno Hakakaulo Lasanno Lapoido Alana Dusido Malohunno Mosisi Kepi Saduto Umemetenno Huwanai Kepi kaita Wotu Sellade Supawonno So Samalhatanno Mallaki Ampatolalo Hatudesi Kullo Wodu Tahapesiwonno Waimatani Inallo Dimudu Wati Skopwunno Keulo Wati Medim nuollo Salawano Tahinanjerek Soullo Mokobersua Halasinno Pata Siaputih Dedehe'elo Amanuwonno Lataddo Wula Sarikat Lalaworunno Sinidalo Paunusa Palawudwa Aisinno Dedeido Tinawulo Hinaratu Hatutelahani Amanuwonno Hatuwoni Sadewa Pupuweo Iyagunung Medim nuollo ...

Sa Inoro'o Sa sebagai Perilaku Politik Orang Siri-Sori Islam (2)

Sebagaimana yang beta katakan di artikel kemarin bahwa beta akan jelaskan frasa "Sa Inoro'o Sa" sebagai perilaku politik orang Siri-Sori Islam. Apa itu Sa inoro'o Sa? Dan apakah ada kaitan dengan perilaku politik? Adalah pertanyaan menarik yang harus di jawab segera. Dalam kajian psikologi, ada proses untuk mengetahui perilaku seseorang. Pertama, kita harus melakukan observasi secara mendalam untuk meraba aspek-aspek psikologis. Aspek-aspek ini sebetulnya sudah ada dalam masyarakat. Masyarakat punya tata nilai tersendiri. Seperti nilai-nilai kebaikan, kejujuran, tolong menolong, dll. Semua nilai-nilai itu harus di serap dan di rumuskan menjadi perilaku-perilaku tertentu. Tidak semua nilai dalam masyarakat memiliki tendensi ke arah perilaku yang ingin di temukan. Misalnya, nilai-nilai kejujuran, punya tendensi ke arah perilaku yang cukup beragam. Nilai-nilai kejujuran bisa bermuara pada perilaku prososial, dan adakalanya juga ke arah perilaku memaafk...

Tujuan PRESTASI bukan IPK melainkan ILMU

Kisah nyata. Saat ini aku ingin bercerita tentang PRESTASI. Cerita ini bermula ketika aku masih duduk di bangku kuliah kala itu.  Semester awal, prestasi ku terbilang memuaskan. Aku banyak belajar, baca buku, dan jarang main-main. Aku banyak menghabiskan waktu senggang di perpustakaan.  Seiring berjalannya waktu, prestasi ku semakin anjlok. Aku banyak menyibukkan diri di organisasi.  Aku tak peduli dengan kuliah. Bagiku organisasi ialah tempat yang sama dengan kuliah. Di organisasi, aku bisa mengasah skill, yang hal ini tidak pernah aku dapat di bangku kuliah.  Tak hanya itu. Bahkan di organisasi juga aku banyak berdiskusi dengan kawan-kawan dari berbagai jurusan.  Bersama mereka, aku habiskan waktu untuk mengkaji filsafat. Mengkaji pemikiran para tokoh-tokoh kaliber dunia. Dan masih banyak topik kajian lainnya. Karena rutinitas yang terlalu padat di luar kampus, akhirnya aku mendapat IPK 2,75. Prestasi yang luar biasa sekaligus KONY...

Filosofi Nasi Pulut dalam Perilaku Orang Siri-Sori Islam

Tradisi orang Maluku sudah terlampau banyak. Salah-satu tradisi yang patut kita angkat jempol ialah tradisi "Ipika Mese-Mese". Tradisi ini khas di miliki orang Siri-Sori Islam, tepat di ujung pulau Saparua sana.  Meskipun luas Siri-Sori Islam tak seberapa, namun dari sana lahir anak-anak muda cerdas, yang berani memposisikan diri dalam berbagai sektor, baik politik, birokrasi, maupun akademisi. Sebab, orang Siri-Sori Islam punya perangkat kemajuan bersama, yakni Ipika Mese-Mese.  Hakikat Ipika Mese-Mese bisa kita lihat pada simbol nasi pulut. Pulut berasal dari beras padi ketan. Jika kita lihat padi ketan, kita akan menemukan bahwa semakin berisi padinya maka ia semakin merunduk. Makna filosofinya ialah rendah hati, santun, dan penyabar.  Jika butiran beras ketan kita kumpul dan masak, maka semuanya akan saling lengket-menyatu. Artinya, kepribadian rendah hati, santun, dan penyabar dari semua anak negeri lebur menjadi satu (lengket-menyatu).  Mak...