Langsung ke konten utama

Kisah Raja dan Biru Tua


Di negeri para raja-raja, 
rakyat harus ikut titah raja, 
kalau tidak, kena kualat, 
petaka, bangsa feodal. 

Di negeri para raja-raja, 
raja pusing kepala, 
semalam suntuk tak tidur panjang,
pikir sana, pikir sini, 
mondar-mandir tanpa arah. 

Di negeri para raja-raja, 
tiba-tiba lewat sufi berjubah shof,
dia tanya, "Kenapa kau baginda?"
"Aku pusing, aku takut hilang semuanya"
"Apa solusinya?"
"Kau harus lihat warna biru tua"
"Baiklah".

Esok hari, di negeri para raja-raja, 
raja perintah kapitan suruh rakyat,
semua yang ada harus cat biru tua, 
rumah, perabotan, sampai kandang sapi, 
rumput, pohon, tanah, harus biru tua. 

Sewindu berlalu, di negeri para raja-raja, raja kembali bahagia. 

Datang lagi sufi, dan bertanya, 
"Kenapa kau cat semua biru tua?"
"Supaya aku tak merasa sengsara"

"Bodoh kau.,!"
"Kenapa tak kau pakai saja, kacamata biru tua? Lebih mudah, tanpa merubah segalanya".

Catatan: 
Dilansir dari ceramah Dr. Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, dengan sedikit penambahan ornamen bahasa daerah Maluku. 

Lorong Anggrek, 
Jumat 24 Juli 2020

Qashai Pelupessy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CONTOH: TULISAN ESAI LULUS BEASISWA

Untuk melamar beasiswa, seperti beasiswa LPDP Kemenkeu, maka pelamar diminta untuk menulis esai singkat tentang sejumlah kontribusi yang telah dilakukan selama ini. Ulasan tentang kontribusi ini paling tidak menjawab tiga hal yakni; (1) Kontribusi apa yang TELAH dilakukan?; (2) Kontribusi apa yang SEMENTARA dilakukan?; dan (3) Kontribusi apa yang NANTI dilakukan?. Intinya, ceritakan kontribusi apa baik itu SEBELUM, SEKARANG, dan NANTI. Membicarakan kontribusi ini bukan bermaksud untuk membanggakan diri sendiri, tapi sejauhmana peran anda di tengah kehidupan sosial. Berikut ini adalah contoh esai yang sudah saya tulis, dan alhamdulillah lulus beasiswa. Semoga bermanfaat.  ..............................  "Hidup damai” adalah dambaan setiap makhluk hidup di dunia ini. Baik itu hewan, tumbuhan, tanah, dan manusia, semuanya mendambakan kedamaian hidup. Itulah yang saya rasakan saat menulis personal statement ini setelah merefleksikan perjalanan hidup saya mulai sejak lahir hingga s...

Maluku Menuntut Keadilan?

Beberapa minggu lalu para intelektual Maluku melakukan webinar dalam rangka memperingati hari lahir republik Indonesia. Webinar itu mudah sekali ditebak substansi pembahasannya ialah soal keadilan sosial, ekonomi, dan pembangunan.  Awalnya, acara itu berlangsung hikmat. Webinar itu memberi beta sedikit pengetahuan bahwa ternyata industri-industri asing di Maluku "sengaja" dilegalkan hanya untuk menyedot kekayaan alam Maluku tanpa efek timbal balik yang jelas.  Keuntungan yang diperoleh industri asing itu langsung di kirim ke Jakarta untuk menghidupi gaya hidup "parlente" orang-orang berdasi di sana. Fakta ini sangat memprihatinkan. Maluku hanya dijadikan sapi perah. Ironis.  Olehnya itu, hasil webinar menuntut keadilan. Rekomendasi yang ditawarkan bukan main-main yakni; (1) melepaskan diri dari Indonesia; (2) merubah regulasi; dan (3) pembagian hasil harus seimbang 50:50.  Semua orang punya hak menuntut keadilan. Hal ini termasuk perilaku terpuji. Namun, dalam tuntu...