Langsung ke konten utama

Sosmed Merenggut Kebebasan Manusia


Popularitas mengalahkan kebebasan ku sendiri. Sosmed punya algoritmanya. Sekali kita unggah status dan banyak mendapat like, maka muncul hawa dalam diri ini, yakni popularity. 

Ketika kita terjerembab dalam lubang popularitas, maka yang ada ialah keinginan untuk mengulang kembali upload status. Ini yang disebut "maniak" dalam ber-sosmed. 

Ketika sudah maniak, maka yang muncul ialah kehausan di akui publik. Ketika muncul rasa haus itu, maka tibalah saatnya kita berada di tubir kepameran, keangkuhan, dan kesombongan. 

Tidak ada rasa bahagia dalam ber-sosmed. Yang ada hanyalah keinginan untuk menarik simpatisan. Dan ketika hal itu tidak terjadi, maka muncul penyesalan. Ini benar-benar bahaya. Sosmed merenggut kebebasan ku sendiri. 

Aku ingin lepas dari dunia sosmed. Ingin lepas semuanya. Sosmed membuat kita bergerak tanpa jiwa. Sosmed membuat kita hilang kendali. Sosmed merenggut segalanya. Sosmed membuat kita tidak lagi menjadi pribadi "tulen".

Qashai Pelupessy 
Maluku - Ambon
Selasa, 14 Juli 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CONTOH: TULISAN ESAI LULUS BEASISWA

Untuk melamar beasiswa, seperti beasiswa LPDP Kemenkeu, maka pelamar diminta untuk menulis esai singkat tentang sejumlah kontribusi yang telah dilakukan selama ini. Ulasan tentang kontribusi ini paling tidak menjawab tiga hal yakni; (1) Kontribusi apa yang TELAH dilakukan?; (2) Kontribusi apa yang SEMENTARA dilakukan?; dan (3) Kontribusi apa yang NANTI dilakukan?. Intinya, ceritakan kontribusi apa baik itu SEBELUM, SEKARANG, dan NANTI. Membicarakan kontribusi ini bukan bermaksud untuk membanggakan diri sendiri, tapi sejauhmana peran anda di tengah kehidupan sosial. Berikut ini adalah contoh esai yang sudah saya tulis, dan alhamdulillah lulus beasiswa. Semoga bermanfaat.  ..............................  "Hidup damai” adalah dambaan setiap makhluk hidup di dunia ini. Baik itu hewan, tumbuhan, tanah, dan manusia, semuanya mendambakan kedamaian hidup. Itulah yang saya rasakan saat menulis personal statement ini setelah merefleksikan perjalanan hidup saya mulai sejak lahir hingga s...

Maluku Menuntut Keadilan?

Beberapa minggu lalu para intelektual Maluku melakukan webinar dalam rangka memperingati hari lahir republik Indonesia. Webinar itu mudah sekali ditebak substansi pembahasannya ialah soal keadilan sosial, ekonomi, dan pembangunan.  Awalnya, acara itu berlangsung hikmat. Webinar itu memberi beta sedikit pengetahuan bahwa ternyata industri-industri asing di Maluku "sengaja" dilegalkan hanya untuk menyedot kekayaan alam Maluku tanpa efek timbal balik yang jelas.  Keuntungan yang diperoleh industri asing itu langsung di kirim ke Jakarta untuk menghidupi gaya hidup "parlente" orang-orang berdasi di sana. Fakta ini sangat memprihatinkan. Maluku hanya dijadikan sapi perah. Ironis.  Olehnya itu, hasil webinar menuntut keadilan. Rekomendasi yang ditawarkan bukan main-main yakni; (1) melepaskan diri dari Indonesia; (2) merubah regulasi; dan (3) pembagian hasil harus seimbang 50:50.  Semua orang punya hak menuntut keadilan. Hal ini termasuk perilaku terpuji. Namun, dalam tuntu...